Jelajah Malang

Seru-seruan jelajahi Malang dengan berjalan kaki

Belajar dari Jejak Kepemimpinan Para Tokoh di Masa Jawa Klasik : Dari Airlangga hingga Dyah Wijaya

 Dalam rangkaian Seminar Digital Kemenkeu Corpu Open Class (KCOC) bertema “Akar yang Kuat, Langkah yang Hebat: Inspirasi Generasi Muda dari Tokoh Sejarah Nusantara” yang menjadi bagian dari Festival Budaya HORI ke 79. Seminar diisi oleh narasumber hebat Asisi Suhariyanto atau kerap dikenal sebagai Asisi Channel mengajak para peserta menyelami kisah para tiga tokoh besar di masa Jawa Klasik yakni Airlangga, Ken Angrok dan Dyah Wijaya. 

Bermula dari kisah Airlangga “Anak Rantau jadi Raja”, yang merupakan seorang bli dari bali yang berusia 16 tahun merantau menuju jawa untuk dinikahkan oleh putri raja terakhir yang bernama Dharmawangsa Teguh dari kerajaan Medang. Namun naas, dimalam pernikahannya tiba tiba kerajaan Medang digempur oleh Wurawari dari Iwaram yang menyebabkan Airlangga gagal menikah dan mencari tempat persembunyiaan untuk menyelamatkan diri dari dari peperangan yang terjadi. Airlangga bersembunyi dan bertapa selama tiga tahun lamanya, hingga akhirnya didatangi oleh para Pujangga, Siwa, Pendeta, tokoh agama hingga masyarakat untuk memerintah negara alias diangkat sebagai Raja Jawa. 

Dalam perjalanannya membangun kerajaan Airlangga selama 15 tahun, Airlangga berjuang melawan banyak penguasa mulai dari Raja Bhismaprabawa (1029 M), Raja Panuda dari Wengker, menghancurkan Haji Wurawari (1032 M) hingga berhasil menaklukan penguasa perempuan seperti raksasa (1032 M). Ia bahkan pernah kalah dalam peperangan hingga harus mundur ke Patakan dan bersembunyi di sebuah goa tempat ia memuja Arca Durga dan berdoa agar bisa selamat. Dengan harapan jika ia selamat dari serangan musuh, tempat ini akan menjadi daerah Sima untuk tempat pemujaan Batari Durga dan kisahnya tertulis rapi dalam Prasasti Terep. 

Tak hanya berperang, Airlangga juga berhasil merebut Hegemoni melalui jalur rempah yang akhirnya merupakan cikal bakal yang membentuk peradaban nusantara. Tak hanya itu,  Airlangga merupakan salah satu raja yang paling banyak menerbitkan prasasti hingga 33 prasasti. Di akhir masa pemerintahannya, ia menbagi kerajannya menjadi 2 yakni Janggala dan Panjalu. Panjalu yang merupakan Kadiri dan Janggala itu Kahuripan yang berada di sekitar Jawa Timur. 

Keberaniannya tertulis dalam prasasti Pucangan (1037 M)  yang berbunyi “Bagai naga menyala nyala (dengan lidah api) menjilati sekitarnya, dia bakar wilayah yang paling biadab dengan berani…”. Dari kisah Airlangga, kita belajar tentang keberanian untuk keluar dari zona nyaman saat dunia jungkir balik. hanya dengan bertindak, situasi bisa berubah menjadi lebih baik.

Tokoh kedua, Ken Arok atau Angrok yang dijuluki “Anak Desa dengan Mimpi Besar” yang tumbuh dan besar dalam kemiskinan dengan perjudian dan penjurian, di Wetan Gunung Kawi, Malang, namun memiliki ambisi besar untuk mengubah nasibnya. Besar di lingkungan yang salah, Angrok kecil meniru perilaku orang tuanya seperti mencuri, berjudi hingga akhirnya kehilangan segalanya. Ketika angon kerbau dan kehilangan ternaknya, keluarganya harus menjadi budak karena tak mampu mengganti kerugian dan sejak saat ini, Angrok hidup sebatang karang, menggelandang di jalanan.

Sempat menempuh pendidikan dasar bersama temannya, Tuan Tita, namun setelah lulus tidak tahu arah hingga kembali menjadi perusuh, merampok dan berjudi. Hingga suatu hari, ia bertemu Mpu Palot, seorang pengrajin emas yang ia antarkan pulang melewati daerah rawan begal. Mpu Palot kagum dengan keberanian Angrok karena berhasil mengantarkannya hingga mengangkatnya sebagai anak. Dari sanalah Angrok belajar menjadi pengrajin emas. 

Karena reputasi yang sudah buruk, ia tidak dipercaya semua orang hingga akhirnya putus asa meminta bantuan melalui jalur spiritual. Diarahkanlah ia untuk menuju Kedung Panitian yang diduga situs Ngawonggo untuk bertapa dan memohon petunjuk. Dalam petapaan itu, Angrok mendapat petunjuk untuk menuju Gunung Lejar, tempat para dewa menasbihkannya kelak menjadi seorang Raja Jawa. Sebagian peneliti menafsirkan “para dewa” sebagai kelompok penguasa tumapel yang ingin melepaskan diri dari Daha yang kala itu merupakan pusat kerajaan.

Dari situ, perjalanan Angrok dimulai ketika dipertemukan dengan Dahyang Lohgawe yang merupakan petapa yang menasihatinya untuk bekerja di istana Tunggul Ametung. Di sana, ia bertemu Ken Dedes, istri Tunggul Ametung yang dikenal dengan parasnya yang cantik dan berwibawa. Lohgawe berkata bahwa wanita seperti Ken Dedes adalah nariwari yang berarti siapapun laki laki betapapun hinanya, siapapun yang menikahi wanita tersebut akan menjadi raja. Sejak saat ini, keinginan Angrok semakin kuat untuk menjadi seorang raja dengan menikahi Ken Dedes dan membunuh Tunggul Ametung. 

Dalam rencananya membunuh Tunggul Ametung, Angrok memesan keris kepada Mpu Gandring dan diberi tenggat lima bulan, namun ternyata setelah lima bulan keris belum selesai tepat waktu dan Angrok menjadi marah hingga membunuh Mpu Gandring. Sebelum meninggal, Mpu Gandring mengutuk bahwa keris yang dipegang Angrok akan memakan tujuh raja. Dalam ketakutan, Ken Arok tetap melanjutkan ambisinya. Ia memberikan keris itu kepada Kebo Ijo, hingga seluruh Tumpel tahu. Dimalam harinya, Angrok mengambil kembali keris tersebut dan menggunakannya untuk membunuh Tunggul Ametung. Masyarakat mengira yang membunuh Tunggul Ametung adalah Kebo Ijo, padahal sebenarnya dalang dibalik kematian Tunggul Ametung adalah Ken Angrok sendiri. 

Rencananya berhasil dan ia menikahi Ken Dedes serta merebut kekuasaan Tumapel. Namun karma tak akan pernah salah pada pemilikinya, pada 1247 M, Ken Angrok terbunuh oleh Anusapati, anak Ken Dedes dengan Tunggul Ametung, menggunakan keris kutukan Mpu Gandring.

Kisah hidupnya tercatat dalam Prasasti Mula Malurung (1255 M) yang berbunyi “ kakek sang prabu yang disebut bhatara siwa, ia yang meninggal di singgasana emas (mati terbunuh)dan di Pararaton (1247 M) diperjelas jika Amurawabhumi (Ken Angrok) tewas dibunuh utusan Anusapati anaknya Tunggul Ametung dengan Ken Dedes sebelumnya dengan keris ketika akan makan malam. Dari Ken Arok kita belajar bahwa bermimpi besar + upgrade skill dan koneksi adalah sukses. batasan kita adalah mindset. karma itu nyata, tetaplah jadi orang baik dalam proses meraih mimpi. 

Tokoh terakhir adalah Dyah Wijaya atau Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit. Ia merupakan keturunan murni dari Ken Angrok dan Ken Dedes dan menantu Kertanegara yang selamat dari pemberontakan Jayakatwang. Kertanegara merupakan raja terakhir Singhasari yang menggagas Mandala Dwipantara yang menjadi cikal bakal Mandala Nusantaranya Gajah Mada serta cikal bakal Indonesia tapi belum sampai Nusantara. 

Saat Singhasari diserang oleh Jayakatwang, seluruh istana hancur, Dyah Wijaya dan 12 pengikut setianya salah satu yang selamat, memutuskan untuk melarikan diri hingga ke Madura, berlindung di bawah Arya Wiraraja sang penguasa Sumenep. 12 pengikut setianya tertulis dalam Prasasti Kudadu (1294 M) dan di Pararaton juga disebutkan dengan jelas namanya, diantaranya Aryadikara, Banyak Kapuk, Dangdi, Gajah Pagon, Nambi, Pedang, Peteng, Rangga Lawe, Sora dan Wirot.

Dalam pelariannya ke Sumenep, Madura, di sana, Dyah Wijaya meminta bantuan kepada Arya Wiraraja dan bersumpah jika kelak berhasil merebut kembali Jawa, ia akan membagi kekuasaan menjadi dua. Dyah Wijaya dan pengikutnya juga menyusun lima strategi besar untuk dapat bangkit, diantaranya : 

  1. Menyusup ke kandang musuh. Atas surat yang dikirimkan Arya Wiraraja kepada Jayakatwang, Dyah Wijaya bisa diterima di istana Jayakatwang dan berpura pura tunduk pada Jayakatwang agar diterima mengabdi di Daha.

  2. Mengukur kekuatan musuh. Ia dan pengikut setianya datang ke Daha untuk berpartisipasi dalam lomba saat perayaan Galungan untuk mengukuri kemampuan musuh.

  3. Membangun basecamp. Awalnya Dyah Wijaya mengajukan ke Jayakatwang satu tempat untuk berburu dan dizinkan oleh Jayakatwang. Tenyata, tempat perburuan tersebut bukanlah untuk berburu tetapi basecampnya dan pasukannya yang bernama Majapahit.

  4. Berkolaborasi dengan Mongol. Saat pasukan Mongol dari Dinasti Yuan datang mengempur kerajaan Jayakatwang, Dyah Wijaya memanfaatkan situasi dengan berpura pura membantu mereka menggempur Daha dan berkoalisi dengan Mongol dengan dijanjikan seluruh Jawa akan tunduk padanya, dan akhirnya Mongol Menang.

  5. Serangan kilat pada Mongol. Setelah menang, Dyah Wijaya berbalik melawan pasukan Mongol dan mengusir mereka dari Jawa.

Dari strategi cerdas ini lahirlah Kerajaan Majapahit pada tahun 1294 M, kerajaan besar yang kelak membawa Nusantara mencapai puncak kejayaan. Dari kisah Dyah Wijaya dapat diambil pembelajaran bahwa berstategi dan bertindak taktis dalam meraih tujuan. dan circlemu penentu sukesmu. 

Dari pelajaran ketiga tokoh besar tersebut, dapat disimpulkan bahwa beranilah bermimpi besar seperti Ken Arok, berstrategilah cerdas dan bijak berteman seperti Dyah Wijaya dan teguhlah menghadapi ujian seperti Airlangga. 

Bagi yang tertarik mengenal sejarah dan warisan budaya lokal, kamu bisa mengikuti program Walking Tour Jelajah Malang atau ikuti akun instagram @jelajahmalang_ untuk informasi tour atau event budaya menarik selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Our Teams

Follow Us

Our Review