Jelajah Malang

Seru-seruan jelajahi Malang dengan berjalan kaki

Uklam Uklam Ijen Heritage Menyusuri Sejarah Bersama

Menyambut awal tahun di tahun 2026, Jelajah Malang kembali mengadakan event walking tour. Pada even kali ini Jelajah Malang berkolaborasi dengan Semeru 27. Tur yang  dilaksanakan pada Sabtu, 10 Januari 2025, menyusuri kawasan Ijen dengan tema “Uklam-uklam Ijen Heritage”.

Titik kumpul dimulai di Semeru 27, tempat para peserta berkumpul dan bersiap menelusuri kawasan Ijen yang sejak masa kolonial dikenal sebagai kawasan hunian elite Eropa di Kota Malang. Tur dimulai dari pukul 07.00 WIB.

Dari Semeru 27, perjalanan dimulai dengan berjalan kaki menuju kawasan Stadion Gajayana. Di awal rute, rombongan singgah sejenak di Sekolah Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) Malang, sebuah lembaga pendidikan yang telah berdiri sejak masa kolonial dan memiliki peran penting dalam perkembangan sejarah pendidikan di Kota Malang.

Sekolah YPK bukan sekadar bangunan pendidikan biasa. Tempat ini menyimpan kisah perjuangan masyarakat hingga pelajar pada masa mempertahankan kemerdekaan dan disinilah terbentuk Tentara Genie Pelajar (TGP) yaitu kelompok pelajar yang terlibat langsung dalam perlawanan terhadap penjajah. Kisah ini menjadi pengingat bahwa ruang pendidikan juga pernah menjadi ruang perjuangan di masa lampau.

Selepas dari Sekolah YPK Malang, perjalanan berlanjut melewati Stadion Gajayana, stadion tertua di Kota Malang yang telah ada sejak era Hindia Belanda. Pada awal pembangunannya, stadion ini difungsikan sebagai fasilitas olahraga bagi warga Eropa. Hingga kini, Stadion Gajayana masih berdiri dan digunakan sebagai ruang publik, sekaligus menjadi saksi perkembangan kehidupan masyarakat Malang dari masa ke masa.

Berpindah sejenak menyusuri kawasan Ijen Boulevard, peserta berhenti di Monumen Melati Kadet Suropati. Monumen peringatan yang berada di tengah kawasan hijau Ijen dan didedikasikan untuk mengenang Kadet Suropati, para taruna dan pemuda pejuang yang gugur dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia, khususnya di wilayah Malang dan sekitarnya. Nama melati dipilih sebagai simbol kesucian, ketulusan, dan pengorbanan para pejuang muda yang rela mengorbankan masa depannya demi bangsa.

Perjalanan dilanjutkan melewati Museum Brawijaya, sebuah museum perjuangan yang menyimpan berbagai koleksi benda bersejarah, termasuk senjata dan dokumentasi perjuangan rakyat Indonesia di Jawa Timur. Dulunya museum ini merupakan bangunan bekas kolonial yang kemudian dialihfungsikan sebagai ruang edukasi sejarah. Di tempat ini, kisah perjuangan tidak hanya diceritakan, tetapi juga dihadirkan melalui dokumentasi yang nyata.

Dari Museum Brawijaya, peserta kembali menyusuri sepanjang jalan di Ijen Boulevard, ikon kawasan Ijen dengan dua jalur jalan yang lebar dan deretan rumah bergaya arsitektur kolonial. Kawasan ini dahulu dirancang sebagai pemukiman orang orang Eropa kelas atas, dengan tata ruang yang simetris dan pepohonan rindang yang hingga kini masih menjadi ciri khasnya.

Perhentian berikutnya adalah Makam Pahlawan TRIP. Pada tahun 1947, kawasan ini menjadi saksi peristiwa hebat ketika Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) berusaha menghadang pasukan Belanda yang hendak memasuki Kota Malang. Peristiwa ini menegaskan peran besar para pelajar dalam perjuangan kemerdekaan sekaligus memperkuat identitas Malang sebagai kota perjuangan.

Dilanjutkan ke Gereja Katedral Ijen, salah satu bangunan keagamaan bersejarah yang dibangun pada masa kolonial dan masih aktif digunakan hingga sekarang. Gereja ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga mencerminkan perkembangan komunitas Katolik di Malang serta pengaruh Eropa dalam arsitektur kota. Peserta diajak masuk untuk mengenal sejarah singkat dan nilai arsitektural bangunan tersebut.

Menjelang akhir perjalanan, rombongan singgah di Taman Tjerme, ruang terbuka hijau yang menjadi penutup rangkaian eksplorasi kawasan Ijen. Dari sini, perjalanan diakhiri dengan kembali ke Semeru 27 sebagai pemberhentian terakhir.

Uklam-uklam Ijen Heritage bukan sekadar kegiatan berjalan kaki, melainkan sebuah upaya membaca ulang kota menghubungkan ruang, bangunan, dan peristiwa sejarah yang membentuk identitas Kota Malang. Melalui langkah santai dan cerita yang menyertainya, kawasan Ijen kembali hadir bukan hanya sebagai kawasan elit, tetapi sebagai ruang hidup yang sarat makna dan jejak perjuangan.


Ditulis oleh : Nila Ratnasari


Tidak ada komentar:

Our Teams

Follow Us

Our Review